"Aku jadi sie konsumsi lho" "Iyakah? Ntar masak yang enak lho" "Iyaaaaa..." Siang itu, saat di mana matahari bersinar cerah dan panas, kami bersiap-siap untuk berangkat untuk baksos di Dusun Semawung, Kulon Progo. Kami berkumpul di Gedung Ormawa, FIP UNY. Kami mulai packing apa saja yang akan diangkut di mobil, dan akan dibawa di motor, karena kita menuju tempat menggunakan motor. Tak apa, justru menurutku itu seru dan ramai. Pak Cepi, selaku Ketua Jurusan memberi sambutan dan setelah usai sambutan, kami bersiap untuk menuju tempat. Here we go.... Aku naik motor bersama Afi. Kami sepanjang perjalanan ngobrol panjang lebar, nyanyi sendiri, dan pokoknya heboh gitu. Ya, mungkin ini salah satu mengurangi kebosanan kami selama perjalanan yang menyejukkan, karena tiba-tiba mendung tiba dan tidak terasa panas lagi. Sawah, bukit nan jauh di sana, ...
Aku diam. Sejenak memandangimu sambil aku berurai air mata, aku sedikit menarik bibirku dan mulai tersenyum, aku lalu menghela napas panjang dan kita saling diam satu sama lain. aku memandang sepatuku yang sedikit basah ini. "Kau kenapa?" "Tak apa. Aku hanya, ya, bahagia. Setelah sekian lama kita tidak bertemu dan akhirnya kali ini sembari melihat senja kita bisa bersama, namun aku juga sedih karena keretaku akan datang saat petang" "Aku juga tidak menyangka akhirnya kita bisa bersama seperti ini, ya, seperti sebuah keajaiban, kan? Tak usah sedih, jarak tak berarti apapun saat seseorang sangat berarti," "Ya..." Kita melihat senja di sebuah stasiun besar Gambir. Deru kereta terus berseliweran datang kemari memenuhi telinga. Perlahan warna jingga mulai menguasai angkasa, menyeruak bersama warna kuning dan dihiasi gedung pencakar langit. Aku tak akan melewatkan momen ini. "Mau ke sana?" "Boleh"...
B eberapa majalah, dan koran ditumpuk di ruang tamu yang terbuka. Agar, si Ridwan, dan Zul bisa membaca sekaligus dapat ilmu dari majalah atau koran tersebut. Tiba-tiba Ridwan dan Zul datang dengan membawa bola dan badannya penuh keringat karena habis dari lapangan yang terik serta panas. Tetapi, Ridwan menahan panasnya itu serta mengambil satu koran yang dianggapnya menarik. “Zul, ini koran tentang orang yang membikin negara kacau. Coba lihat , Pak Nazar sudah membuat ulah negara kita jadi kacau. Pak Nazar emang nyebelin. Gue nggak terima. Tega banget dia sama negara. Dasar ––––––“ kata Ridwan sambil mengekspresikan kemarahannya. “Wah, Pak Udin memang orangnya begitu. Elo nggak tahu ya? Makannya sering baca koran dong. Kayak gue gini.” Kata Zul membanggakan dirinya, “Eh tapi ngomong-ngomong, Pak Nazar lagi nggak waras nih. Buktinya dia mengganggu nega...
Komentar
Posting Komentar